Ajus Linggih Minta Kompensasi Blackout PLN

Peran Budaya dan Keselamatan dalam Pemasangan Penjor di Bali

Pemadaman listrik yang terjadi pada Mei 2025 telah menjadi perhatian serius bagi masyarakat Bali, khususnya dalam konteks keberlanjutan tradisi dan keselamatan. Dalam situasi ini, berbagai pihak seperti tokoh masyarakat, lembaga adat, dan anggota DPRD Bali memberikan tanggapan mereka mengenai isu penjor yang selama ini menjadi ciri khas dari perayaan Galungan dan Kuningan.

Ketua Komisi II DPRD Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih atau lebih dikenal sebagai Ajus Linggih, menyampaikan pendapatnya tentang imbauan PLN terkait jarak aman pemasangan penjor dari kabel listrik. Ia menilai bahwa PLN seharusnya menyesuaikan diri dengan adat dan budaya Bali. Menurutnya, masyarakat Bali sudah memasang penjor sebelum ada tiang listrik, sehingga PLN harus mempertimbangkan hal tersebut dalam pemasangan infrastruktur listrik.

Ajus Linggih juga menyebutkan bahwa perayaan Galungan memiliki makna mendalam, yaitu kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan). Hal ini pertama kali dirayakan pada tahun 882 Masehi atau Saka 804. Oleh karena itu, penjor tidak hanya sekadar hiasan, tetapi juga simbol kepercayaan dan nilai-nilai spiritual masyarakat Bali.

Selain Ajus Linggih, beberapa tokoh lain juga turut mengomentari isu ini. Misalnya, Rektor Undhira, Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., Pengamat Budaya Wayan Suyadnya, Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Dr. Ir. I Wayan Jondra, dan Ketua PHDI I Nyoman Kenak. Mereka sepakat bahwa penjor adalah bagian penting dari identitas budaya Bali dan harus dipertahankan tanpa mengorbankan keselamatan.

Sementara itu, Gung Cok, Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali, memberikan tanggapan terkait himbauan PLN. Meskipun ia setuju bahwa edukasi tentang jarak aman sangat penting, ia menilai bahwa himbauan tersebut bisa saja menimbulkan masalah jika tidak memperhatikan aspek adat dan tradisi. Ia menegaskan bahwa penjor harus tetap dihormati sebagai simbol sakral dalam tradisi Bali.

Pemadaman listrik yang terjadi pada Mei 2025 juga masih menjadi perhatian. Ajus Linggih belum mendapatkan pengumuman mengenai kompensasi yang dijanjikan oleh PLN kepada pelanggan di Bali yang terdampak. Kompensasi ini akan berupa pengurangan biaya tagihan listrik, sesuai dengan Permen ESDM Nomor 27 Tahun 2017. Namun, sampai saat ini, masyarakat masih menunggu pengumuman resmi.

Manager PLN UP3 Bali Utara, Elashinta, memberikan klarifikasi mengenai imbauan yang disampaikan kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa imbauan tersebut ditujukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan bersama. Saat musim hujan, bambu penjor yang basah bisa menghantarkan arus listrik jika terlalu dekat dengan jaringan listrik. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk menghindari risiko bahaya.

Elashinta juga menegaskan bahwa niat PLN bukan untuk menyinggung adat dan budaya Bali. Ia menyampaikan permohonan maaf apabila penyampaian informasi tersebut menimbulkan kesalahpahaman. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat merayakan hari suci ini dengan aman dan damai.

Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Buleleng, Dewa Putu Budarsa, juga memberikan dukungan atas pentingnya menjaga keselamatan dalam pemasangan penjor. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai budaya tetap harus dijunjung, tetapi keamanan masyarakat juga harus diperhatikan. Ia menilai bahwa kedua hal ini tidak saling bertentangan, tetapi saling melengkapi.

Dengan adanya tanggapan dari berbagai pihak, tampaknya upaya untuk menjaga harmonisasi antara keselamatan dan pelestarian tradisi sedang dilakukan. Semoga langkah-langkah ini dapat membantu masyarakat Bali merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan dengan aman, tertib, dan penuh makna.




Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *