Perubahan iklim kini tidak lagi menjadi ancaman di masa mendatang, melainkan telah dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Selatan, Rahmat Prapto Udoyo, dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Aksi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim.
Rahmat menjelaskan, berbagai dampak perubahan iklim sudah terlihat jelas, mulai dari peningkatan suhu rata-rata, perubahan pola curah hujan, hingga meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem. Kondisi tersebut memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat di berbagai sektor.
Menurutnya, Kalimantan Selatan saat ini menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Banjir yang kian sering terjadi, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga penurunan kualitas lingkungan akibat alih fungsi lahan menjadi persoalan yang perlu ditangani secara serius.
Ia menegaskan, dampak tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, aktivitas sosial, serta menurunkan daya dukung lingkungan. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, turut memperburuk kondisi yang ada.
Dalam konteks pengendalian perubahan iklim, Rahmat menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca melalui langkah mitigasi, serta meningkatkan ketahanan masyarakat melalui upaya adaptasi.
Ia menambahkan, seluruh upaya tersebut harus dilakukan secara terencana, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan kebijakan pembangunan daerah. Salah satu instrumen penting dalam mendukung hal tersebut adalah Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI), yang berfungsi sebagai sarana pencatatan, pelaporan, dan pemantauan aksi iklim.
Melalui sistem tersebut, setiap langkah adaptasi dan mitigasi dapat diukur secara jelas serta memberikan kontribusi terhadap target nasional pengendalian perubahan iklim.
Lebih lanjut, Rahmat menyampaikan bahwa Program Kampung Iklim (ProKlim) terus didorong sebagai salah satu upaya konkret di tingkat masyarakat. Program ini tidak hanya bertujuan menurunkan emisi, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Pada tahun 2025, tercatat sekitar 120 lokasi ProKlim di Kalimantan Selatan telah terdaftar dalam SRN PPI. Dari jumlah tersebut, empat lokasi meraih penghargaan kategori Lestari dan satu lokasi mendapatkan penghargaan kategori Trophy Utama.
Secara keseluruhan, sejak tahun 2014 hingga 2025, terdapat 559 lokasi ProKlim yang terdaftar di Kalimantan Selatan, dengan total 637 lokasi berhasil meraih penghargaan.
Rahmat menilai capaian tersebut menjadi bukti pentingnya kolaborasi lintas sektor, baik pemerintah daerah, akademisi, maupun dunia usaha dalam mendukung aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal.
Melalui kegiatan Bimtek ini, DLH Kalsel berharap kapasitas aparatur pemerintah daerah semakin meningkat dalam menyusun dan melaporkan aksi iklim secara lebih sistematis, mudah dipahami, serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dengan demikian, kualitas pelaporan melalui SRN PPI diharapkan semakin baik, terukur, dan selaras dengan arah pembangunan daerah yang berkelanjutan.
