Pemprov Kalsel Dorong Digitalisasi Data Hortikultura Melalui Aplikasi SPH-CAWI

Banjarbaru — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus mendorong transformasi digital di sektor pertanian, khususnya dalam pengelolaan data hortikultura. Salah satu upaya yang dilakukan adalah optimalisasi penggunaan aplikasi Statistik Pertanian Hortikultura berbasis Computer-Assisted Web Interviewing (SPH-CAWI).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman, melalui Kepala Bidang Hortikultura, Amir Salhan, mengungkapkan bahwa selama ini pengumpulan data hortikultura masih dilakukan secara manual. Metode tersebut dinilai kurang efisien dan berpotensi menimbulkan perbedaan data antar instansi.

“Melalui aplikasi SPH-CAWI, pengumpulan data kini dilakukan secara online berbasis web. Ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan akurasi sekaligus efisiensi dalam pengelolaan data hortikultura,” ujar Amir saat kegiatan sosialisasi kepada mantri tani dan penyuluh di kabupaten/kota.

Ia menjelaskan, penerapan aplikasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan prinsip satu data pertanian. Dengan sistem yang terintegrasi, seluruh pihak—mulai dari tingkat daerah hingga pusat—akan menggunakan sumber data yang sama.

“Ke depan, tidak ada lagi perbedaan data antara statistik, dinas pertanian kabupaten/kota, maupun provinsi. Semua mengacu pada satu sistem yang sama,” jelasnya.

Amir menambahkan, tahun 2026 menjadi tahap awal penerapan SPH-CAWI secara lebih luas di Kalimantan Selatan. Oleh karena itu, pihaknya terus memberikan pemahaman teknis kepada para mantri tani dan penyuluh agar mampu melakukan input data secara tepat dan berkelanjutan.

Selain fokus pada digitalisasi data, Pemprov Kalsel juga terus mengembangkan sektor hortikultura, terutama komoditas strategis yang berpengaruh terhadap inflasi, seperti bawang, cabai, tanaman hias, serta buah-buahan unggulan daerah.

Meski demikian, ia mengakui adanya tantangan terkait efisiensi anggaran pada periode 2025 hingga 2026 yang berdampak pada pengembangan sektor hortikultura di tingkat daerah.

“Efisiensi anggaran membuat ruang gerak di kabupaten/kota menjadi terbatas. Ini tentu berpengaruh terhadap luas tanam dan produksi, namun kami tetap berupaya agar hasil produksi dapat terus meningkat,” ungkapnya.

Melalui pemanfaatan teknologi digital seperti SPH-CAWI serta sinergi antar pemangku kepentingan, diharapkan pengelolaan data hortikultura di Kalimantan Selatan menjadi lebih akurat, terintegrasi, dan mampu mendukung pengambilan kebijakan yang tepat sasaran.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *