JAKARTA – Universitas Jayabaya resmi mengukuhkan Ary Ginanjar Agustian sebagai Guru Besar Kehormatan (Honorary Professor) di bidang Karakter Hukum pada Fakultas Hukum. Prosesi berlangsung khidmat di Auditorium Prof. Dr. H. Moeslim Taher, SH, Universitas Jayabaya, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Ketua Senat sekaligus Wakil Rektor IV Universitas Jayabaya, Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, SH, MH, menyampaikan apresiasi atas pengukuhan tersebut. Menurutnya, pemikiran Ary Ginanjar menghadirkan perspektif baru dalam diskursus hukum di Indonesia, khususnya melalui pendekatan pembentukan karakter.
Ia menegaskan, Universitas Jayabaya akan menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menghadirkan mata kuliah Karakter Hukum sebagai program unggulan.
“Universitas Jayabaya akan menjadi satu-satunya di Indonesia yang mengajarkan mata kuliah karakter hukum. Ini poinnya,” ujarnya.
Harris menjelaskan, pihak kampus memiliki pertimbangan khusus dalam menganugerahkan gelar tersebut kepada pendiri ESQ itu. Kiprah Ary Ginanjar dalam memberikan pelatihan karakter di berbagai instansi, termasuk kepada para penegak hukum, dinilai sebagai kontribusi nyata dalam memperkuat integritas aparat hukum di Indonesia.
Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Karakter Hukum sebagai Fondasi Peradaban Bangsa,” Ary Ginanjar menekankan bahwa penegakan hukum tidak cukup hanya bertumpu pada teks undang-undang, melainkan harus berakar pada karakter dan integritas manusia.
Menurutnya, karakter hukum adalah kualitas moral yang melekat pada individu sekaligus tercermin dalam tindakan institusi. Karena itu, pembangunan karakter hukum harus berjalan serentak di dua level, yakni individu dan sistem.
“Agenda besar kita ke depan bukan hanya memperbaiki regulasi, tetapi memulihkan nurani. Bukan hanya menegakkan pasal, tetapi menjaga nilai-nilai,” tuturnya.
Acara pengukuhan dihadiri jajaran senat akademik, termasuk Rektor Universitas Jayabaya Prof. Dr. H. Fauzie Yusuf Hasibuan, SH, MHum, serta para wakil rektor. Hadir pula Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Kepala BPJPH Haikal Hassan Baras, mantan Mendikbud Mohammad Nuh, penyair Taufik Ismail, serta sejumlah tokoh nasional lainnya.(*)





