Rocky Gerung Soroti “Homeless Intellectual Discourse” di Panggung Politik

MAKASSARUniversitas Negeri Makassar menggelar forum intelektual bertajuk Pandu Negeri Public Lecture Series #003 dengan tema Situasi Global dan Arah Politik Negeri, Generasi Muda Dalam Konsep To Build the World New, Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Gedung Pinisi UNM itu menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Andi Luhur Prihantoro, Hamid Awaluddin, dan Rocky Gerung.

Dalam pemaparannya, Andi Luhur menilai demokrasi global saat ini tengah mengalami kemunduran. Menurut dia, semakin banyak negara dipimpin oleh tokoh non-demokratis yang memperoleh kekuasaan melalui mekanisme demokrasi.

“Jumlah negara otoriter saat ini meningkat dibanding negara demokratis,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa.

Ia juga menekankan pentingnya redefinisi makna kedaulatan di era modern. Menurutnya, kedaulatan tidak lagi hanya berkaitan dengan wilayah, tetapi juga mencakup sektor ekonomi, energi, dan digital.

“Tanpa kemandirian di sektor strategis, kedaulatan hanya akan menjadi slogan,” kata Andi Luhur.

Sementara itu, Hamid Awaluddin membahas dinamika geopolitik global melalui konflik Iran dan Amerika Serikat serta pengaruh hegemoni China dalam percaturan ekonomi dunia. Ia menilai konflik di kawasan produsen minyak kerap berkaitan dengan perebutan rantai pasok energi global.

“Upaya mengganggu stabilitas di wilayah produsen minyak tidak bisa dilepaskan dari ambisi melemahkan industri pesaing global,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rocky Gerung menyoroti kondisi diskursus intelektual di ruang politik nasional. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai homeless intellectual discourse atau “tunawisma diskursus intelektual”.

Menurut Rocky, ruang perdebatan publik saat ini semakin miskin gagasan substantif dan lebih didominasi kepentingan praktis politik.

“Kita menghadapi krisis sistem dan ideologi global. Karena itu, generasi muda harus memiliki infrastruktur berpikir yang kuat,” kata Rocky.

Ia juga mendorong generasi muda untuk menghadirkan gagasan baru bagi dunia, sebagaimana Soekarno pernah menawarkan Pancasila di forum internasional.

Forum tersebut ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang mengajak mahasiswa lebih peka terhadap isu geopolitik global serta memperkuat literasi dan tradisi berpikir kritis.

Hadir dalam kegiatan itu sejumlah tokoh, di antaranya Andi Ridwan Wittiri, Moh Ramdhan Danny Pomanto, dan Fadli Ananda.

reli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *