BANJARMASIN β Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat, ruang dialog yang sehat, bernas, dan mencerahkan menjadi kebutuhan yang semakin penting. Dari semangat itulah lahir Jurnalis On Air, sebuah podcast yang dipandu Ketua SMSI Kalimantan Selatan sekaligus jurnalis senior, Anang Fadillah.
Program ini hadir sebagai ruang percakapan publik yang mengedepankan pendekatan jurnalistik yang santai namun tetap berbobot. Bukan sekadar wawancara formal, Jurnalis On Air mengajak para narasumber berbagi pengalaman hidup, perjalanan karier, gagasan, hingga refleksi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pada episode perdana yang tayang Juni 2026, podcast tersebut menghadirkan Muhammad Risanta, sosok yang tidak asing di kalangan pers Kalimantan Selatan maupun nasional. Pertemuan keduanya menghadirkan dialog yang kaya pengalaman dan wawasan, mempertemukan dua generasi insan pers Banua dalam satu ruang publik yang mencerahkan.
Dalam perbincangan yang berlangsung hangat, Risanta mengisahkan perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik. Ia mengawali karier dari bawah, menapaki berbagai tantangan profesi hingga akhirnya dipercaya menjadi jurnalis CNN Indonesia dan Ahli Pers Dewan Pers.
Bagi Risanta, jurnalistik bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Media, menurutnya, memiliki peran penting sebagai penjernih informasi sekaligus pilar yang menjaga kehidupan demokrasi.
“Perubahan teknologi boleh terjadi, tetapi tanggung jawab moral seorang jurnalis terhadap kebenaran dan kepentingan publik tidak boleh berubah,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam diskusi tersebut.
Selain aktif di dunia media, Risanta juga mendedikasikan dirinya dalam dunia pendidikan sebagai dosen tetap di STIE Pancasetia Banjarmasin. Ia menilai regenerasi wartawan menjadi salah satu tantangan besar yang harus dijawab oleh industri media saat ini.
Menurutnya, wartawan masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan menulis berita. Mereka juga harus menguasai teknologi, memahami etika jurnalistik, memiliki literasi digital yang baik, serta mampu melakukan verifikasi informasi secara akurat di tengah banjir informasi yang beredar di ruang digital.
Selama bertahun-tahun, Risanta terlibat dalam berbagai pelatihan, seminar, workshop, hingga program peningkatan kapasitas wartawan. Upaya tersebut dilandasi keyakinan bahwa kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang diterima masyarakat.
Perbincangan juga mengulas kiprah Risanta di sektor pariwisata nasional. Saat ini ia dipercaya sebagai Humas Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) di Jakarta. Selain itu, ia juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Pemandu Bakti Pertiwi yang berbasis di Cikole, Lembang, Bandung.
Dalam pandangannya, pariwisata tidak hanya berbicara tentang destinasi dan kunjungan wisatawan. Pariwisata merupakan narasi besar mengenai identitas daerah, budaya, ekonomi kreatif, serta diplomasi sosial yang mampu memperkenalkan daerah ke tingkat nasional maupun internasional.
Di sisi lain, Anang Fadillah sebagai host menghadirkan suasana diskusi yang cair dan mendalam. Berbekal pengalaman panjang sebagai penyiar radio, jurnalis, pemimpin redaksi, musisi, dan budayawan, Anang mampu menggali berbagai sisi menarik dari perjalanan hidup narasumbernya.
Karier Anang yang berawal dari dunia radio telah membentuk kemampuannya dalam membangun komunikasi yang dekat dengan publik. Selain aktif memimpin media, ia juga dikenal konsisten menghidupkan ruang-ruang kebudayaan serta aktif menyuarakan berbagai isu sosial dan perkembangan dunia jurnalistik melalui tulisan maupun forum publik.
Kini, selain berkecimpung di dunia media, Anang juga mengemban amanah sebagai Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kalimantan Selatan.
Pertemuan Anang Fadillah dan Muhammad Risanta dalam episode perdana Jurnalis On Air menjadi lebih dari sekadar sesi tanya jawab. Podcast ini menghadirkan dialog dua insan pers yang memiliki latar pengalaman berbeda, namun dipersatukan oleh tujuan yang sama: memperkuat ruang publik melalui percakapan yang sehat, terbuka, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Di tengah maraknya konten digital yang sering kali dangkal dan berorientasi pada sensasi, Jurnalis On Air menawarkan alternatif berupa ruang refleksi yang memberi nilai tambah bagi publik. Pendengar diajak memahami bahwa di balik setiap berita yang dibaca, terdapat proses panjang, pengalaman, dan tanggung jawab yang dijalankan para jurnalis dalam menjaga marwah profesinya.
Episode perdana ini menjadi awal yang menjanjikan. Sebuah langkah kecil yang berpotensi menghadirkan ruang besar bagi lahirnya percakapan-percakapan penting tentang pers, pendidikan, budaya, pembangunan daerah, dan masa depan Indonesia.





