BATULICIN — Wartawan yang meliput isu ekonomi diingatkan agar tidak hanya menyuguhkan deretan angka dalam setiap laporan. Penyajian data yang kering dan terlalu teknis dinilai berpotensi menjauhkan pembaca dari substansi persoalan.
Hal itu disampaikan Wakil Kepala Desk Ekonomi dan Bisnis Kompas, Aris Prasetyo, dalam kegiatan Capacity Building Jurnalis 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan di Hotel Ebony Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Selasa (10/2/2026).
Menurut Aris, laporan ekonomi harus mampu menjembatani kepentingan publik dengan kebijakan atau dinamika yang terjadi. Angka pertumbuhan, inflasi, maupun suku bunga, kata dia, baru akan bermakna jika diterjemahkan dalam dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Jurnalis perlu menghadirkan konteks. Data tetap penting, tetapi harus dijelaskan apa artinya bagi warga,” ujarnya.
Ia menilai penggunaan bahasa yang lugas dan mudah dipahami menjadi salah satu kunci agar informasi ekonomi tidak terasa berjarak. Wartawan juga dianjurkan menghindari istilah teknis tanpa penjelasan serta menyertakan contoh konkret agar pembaca lebih mudah menangkap persoalan.
Dalam pemaparannya, Aris menekankan pentingnya menghadirkan sisi manusia di balik data. Misalnya, kenaikan harga bahan pokok tidak hanya dicatat sebagai persentase inflasi, tetapi juga digambarkan melalui pengalaman pelaku usaha kecil atau rumah tangga yang terdampak.
Selain itu, ia mengingatkan agar penulisan berita tetap mengikuti kaidah dasar jurnalistik, seperti penggunaan struktur piramida terbalik dan pemenuhan unsur 5W+1H. Judul yang jelas dan informatif, tanpa sensasionalisme, juga dinilai penting untuk menjaga kredibilitas media.
Di tengah persaingan arus informasi digital yang serba cepat, Aris menegaskan bahwa ketepatan dan kedalaman analisis tetap harus menjadi prioritas. “Kecepatan penting, tetapi akurasi dan relevansi jauh lebih utama,” katanya.
Kegiatan yang berlangsung pada 9–12 Februari 2026 itu diikuti jurnalis dari berbagai media di Kalimantan Selatan. Pelatihan tersebut bertujuan memperkuat pemahaman wartawan terhadap isu moneter dan ekonomi daerah agar pemberitaan yang dihasilkan lebih komprehensif serta mudah dipahami masyarakat.
Indra





