oleh Amelia Fitriani *)
HARI Minggu ini, setelah menuntaskan deadline tesis, saya memutuskan untuk memberi jeda pada diri sendiri. Bukan liburan jauh atau rencana besar, hanya sebuah perjalanan singkat ke Kota Bogor. Saya mengendarai Jimny Katana tahun 1992, mobil tua yang belakangan terasa seperti ruang refleksi berjalan, untuk menemani saya berkeliling Kota Bogor.
Di mobil itu, saya baru saja memasang tape yang bisa memutar kaset, sebuah upaya kecil untuk membuka pintu menuju masa lalu. Oleh karena itu, perjalanan akhir pekan ini pun saya niatkan sekaligus sebagai kesempatan berburu kaset, agar setiap perjalanan berkendara memiliki warna dan iramanya sendiri.
Di kawasan Jembatan Merah Bogor, di antara toko-toko lama yang menolak rapuh dimakan usia, saya menemukan sebuah toko kecil yang menjual kaset-kaset lama. Bukan kaset bekas, melainkan stok lama yang masih baru, masih tersegel rapi, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya. Toko itu dijaga oleh bapak-bapak sepuh berambut putih yang melayani dengan ramah, sabar, dan tanpa tergesa.
Saya mulai mencari judul-judul yang terasa akrab dengan masa tumbuh saya. Lagu-lagu super lawas yang hadir sebelum saya lahir, tapi saya nikmati, seperti yang dibawakan Milli Vanilli dan Bee Gees. Atau lagu-lagu era saya tumbuh, seperti milik Mariah Carey, Christina Aguilera, Britney Spears, Westlife dan Blue. Juga kaset-kaset musisi Indonesia seperti Sheila On 7, Kahitna, Project Pop, Dewa dan Peter Pan.
Lagu-lagu itu yang dulu menemani masa SMP dan SMA, saat musik belum hadir lewat algoritma, melainkan lewat pita magnetik yang harus diputar dengan sabar. Harganya pun tidak bikin kantong menjerit, Rp20.000 untuk kaset Indonesia dan Rp30.000 untuk kaset internasional. Murah, tapi entah kenapa terasa berharga.
Setelah membeli beberapa kaset, saya memutarnya di mobil saat melanjutkan perjalanan. Pita kaset berputar pelan, lagu mengalun tanpa bisa dilompati. Dan di situ saya tersenyum, saya bahagia. Saya seakan menelusuri lorong ke masa saya kecil dan tumbuh. Saya menemukan kebahagiaan yang sama ketika saya mendengarkan musik di Walkman, hadiah dari Ayah saya, di dalam angkot saat pulang sekolah. Bahagia dengan cara mendengarkan musik, jauh sebelum era Spotify. Mendengarkan musik pada kala itu adalah aktivitas yang utuh, bukan selingan.
Seiring kaset berputar menemani perjalanan mengelilingi Kota Bogor, pikiran saya pun melambat, masuk ke renungan sederhana tentang kaset dan ritme hidup yang perlahan berubah. Kaset mengajarkan ritme yang kini nyaris hilang. Ia tidak instan. Untuk sampai ke lagu favorit, kita harus menunggu. Tidak ada tombol “skip”. Ada jeda, ada kesunyian, ada urutan. Kaset memaksa kita hadir sepenuhnya. Dan mungkin, justru itu yang saya rindukan.
Renungan itu membawa saya pada sebuah buku favorit karya biksu ternama, Haemin Sunim, berjudul “The Things You Can See Only When You Slow Down”. Dalam buku tersebut, ia menulis bahwa ketika hidup terasa melelahkan, sering kali yang bermasalah bukanlah hidup itu sendiri, melainkan kecepatan kita dalam menjalaninya. Kita bergerak terlalu cepat hingga lupa memberi waktu pada diri sendiri untuk benar-benar melihat, merasakan, dan hadir sepenuhnya.
Kaset, dalam kesederhanaannya, adalah latihan kecil untuk melambat. Ia tidak mengikuti kehendak kita, justru mengajak kita menyesuaikan diri. Mendengarkannya bukan sekadar nostalgia, melainkan pengalaman ulang tentang bagaimana manusia pernah hidup, lebih sabar, lebih utuh, dan lebih hadir.
Tentu, dunia yang bergerak cepat bukan sesuatu yang salah. Itu merupakan bagian dari perjalanan zaman yang mustahil dilawan. Spotify, teknologi, dan kemudahan memilih lagu dalam hitungan detik adalah bagian dari cara hidup kita hari ini. Kita membutuhkannya, menikmatinya, dan tidak ada yang keliru dengan itu. Saya pun menikmatinya. Kecepatan juga memberi ruang bagi produktivitas, efisiensi, dan kreativitas dalam bentuknya sendiri. Hidup tidak harus selalu diperlambat.
Namun kaset menghadirkan sesuatu yang berbeda, bukan sebagai penolakan terhadap zaman, melainkan sebagai ruang kecil untuk beristirahat. Ia menjadi semacam jeda yang kita pilih dengan sadar. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk terus bergerak, kaset menawarkan pengalaman melambat tanpa pretensi, mendengarkan satu lagu sampai selesai, menerima urutan apa adanya, dan memberi waktu bagi pikiran untuk tidak selalu berpindah. Kaset bukan tentang kembali ke masa lalu, melainkan tentang menciptakan ruang tenang di masa kini.
Saya menyadari, mungkin saya tidak benar-benar merindukan kaset. Saya merindukan versi diri saya yang mau menunggu satu lagu selesai sebelum berpindah ke lagu berikutnya. Versi diri yang tidak selalu ingin cepat sampai, tapi bersedia menikmati perjalanan.
Barangkali inilah yang dimaksud Haemin Sunim ketika menulis bahwa banyak hal penting dalam hidup hanya bisa terlihat saat kita melambat, bukan karena dunia berhenti bergerak, tetapi karena kita memberi diri sendiri izin untuk melambat sejenak. Kaset tidak meminta kita meninggalkan dunia yang cepat. Ia hanya mengingatkan bahwa di antara satu lagu dan lagu berikutnya, selalu ada ruang untuk diam, jika kita mau.
*) Postgraduate Student in Business & Communication Management, LSPR Institute of Communication & Business (Regular Batch 42)





